Hedonisme dalam al-Qur’an
(Analisis Ayat-Ayat Pendidikan dan Kebahasaan)
Andi S. Rahman
NIM: 161032034
andi24rahman@gmail.com
ASBTRAK
Hedonisme adalah sebuah aliran yang mengatakan bahwa
sesungguhnya kelezatan dan kebahagiaan adalah tujuan utama dalam hidup. Sebagai
seorang muslim, adalah keharusan bagi kita untuk selalu menjaga dan
memperhatikan kehidupannya supaya tidak salah arah dan tujuan. diluar kita, ada
segolongan orang yang orientasinya hanyalah duniawi, tiada lain kecuali harta,
materi, dan kesenangan dunia. Tentunya hal semacam ini tidak pantas untuk kita
ikuti bahkan kita banggakan.
Kondisi
dunia yang semakin mengglobal. Perembesan budaya antar bangsa di dunia tidak
terelakkan lagi. Termasuk di dalamnya ideologi dan gaya hidup manusia yang
sudah tidak dapat dibedakan lagi antara suatu bangsa dengan bangsa lain dan
pemeluk suatu agama dengan pemeluk agama lain. Standar kesuksesan seseorang di
zaman ini, kebanyakan diukur dengan seberapa banyak seseorang menguasai harta
kekayaan dengan tanpa melihat asal muasal harta tersebut didapat. Standard
halal atau haram seolah bukan merupakan masalah yang prinsip. Sebuah ungkapan
yang sering terdengar adalah, “mencari yang haram saja susah apalagi yang
halal”, walaupun disampaikan dengan nada kelakar, akan tetapi paling tidak hal
tersebut merupakan cermin perilaku hedonistik dan materialistik sebagai gaya
hidup yang sedang ngetrend zaman ini. Padahal paham hedonisme sendiri
sebenarnya merupakan paham yang sudah usang, yakni berasal dari Yunani Kuno
yang salah satu tokohnya adalah Epikurus yang hidup antara tahun 341 sampai
dengan 271 M.
Kata Kunci: Hedonisme
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kepribadian individu
berpengaruh terhadap kualitas hidup seseorang. Kepribadian tersebut dipengaruhi
oleh faktor lingkungan semisal lingkungan tempat tinggal, lingkungan kampus,
maupun lingkungan di dalam masyarakat. Kepribadian seseorang juga dapat disebabkan
oleh perkembangan teknologi yang semakin pesat sehingga menimbulkan dampak
globalisasi informasi, mode, serta menjamurnya berbagai macam perangkat media
massa dan elektronik, seperti televisi, internet, dan alat-alat komunikasi yang
mengakibatkan perubahan serta pola atau gaya hidup masyarakat.
Pengaruh
globalisasi berimbas kepada pemenuhan kebutuhan gaya hidup anak zaman sekarang.
gaya hidup merupakan cara yang unik dari setiap orang dalam berjuang mencapai
tujuan khusus yang telah ditentukan orang itu dalam kehidupan tertentu dimana
seorang individu berada. Perilaku gaya hidup hedonisme yang tampak di kalangan
mahasiswa saat ini, disamping adanya perubahan dari kehidupan masyarakat
modern, diyakini pula adanya perubahan pada proses perkembangan individu. Hal
ini ditandai dengan keinginan untuk mandiri dan mencari konsep diri.
Dalam
kamus Al-Munawwir disebutkan sebagai berikut: Hedonisme adalah sebuah aliran
yang mengatakan bahwa sesungguhnya kelezatan dan kebahagiaan adalah tujuan
utama dalam hidup. Kemudian dalam Ensiklopedia Bahasa Indonesia disebutkan
bahwa Hedonisme adalah paham yang berpendapat bahwa kepuasan merupakan satu-satunya
alasan dalam tindak susila.
Di
dalam Al-Qur’an kalimat yang semakna dengan hedonisme adalah At Takatsur yang
dalam terjemahan versi Depag RI diterjemahkan sebagai “bermegah-megahan” dengan
membubuhkan catatan kaki, “bermegah-megahan dalam soal anak, harta, pengikut,
kemuliaan dan seumpamanya.”
Al-Qur’an telah memperingatkan umat manusia agar senantiasa waspada terhadap penyakit ini dengan sangat keras dengan ancaman siksaan yang amat pedih, baik ketika berada di alam barzakh maupun di alam akhirat kelak. Hal ini terlihat jelas bahwa maksud dari firman Allah, “Alhaakumuttakatsur” adalah wa’id atau ancaman terhadap orang-orang yang selama hidupnya hanya sibuk mengurusi urusan-urusan duniawi sampai mereka masuk ke liang lahat sedang mereka tidak sempat bertaubat.
Al-Qur’an telah memperingatkan umat manusia agar senantiasa waspada terhadap penyakit ini dengan sangat keras dengan ancaman siksaan yang amat pedih, baik ketika berada di alam barzakh maupun di alam akhirat kelak. Hal ini terlihat jelas bahwa maksud dari firman Allah, “Alhaakumuttakatsur” adalah wa’id atau ancaman terhadap orang-orang yang selama hidupnya hanya sibuk mengurusi urusan-urusan duniawi sampai mereka masuk ke liang lahat sedang mereka tidak sempat bertaubat.
B.
Rumusan Masalah
1.
apa itu hedonisme.
2.
Faktor apakah yang mempengaruhi seseorang berperilaku hedonisme.
3.
Bagaimana analisis ayat-ayat pendidikan dan kebahasan tentang hedonisme.
C.
Tujuan Penulisan
1.
Mengetahui pengertian hedonisme.
2.
Mengetahui faktor-faktor seseorang menjadi berperilaku hedonisme.
3.
Mengetahui analisis ayat-ayat pendidikan dan kebahasaan tentang
hedonisme.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Hedonisme
gaya hidup hedonis adalah suatu pola hidup yang
aktivitasnya untuk mencari kesenangan hidup, seperti lebih banyak menghabiskan
waktu diluar rumah, lebih banyak bermain, senang pada keramaian kota, senang
membeli barang mahal yang disenanginya, serta selalu ingin menjadi pusat
perhatian. Gaya hidup antara individu satu dengan yang lainnya akan berbeda.
Gaya hidup menunjukkan bagaimana seseorang mengatur kehidupan pribadinya,
kehidupan masyarakat, perilku di depan umum, dan upaya membedakan statusnya
dari orang lain melalui lambang-lambang sosial.
Gaya hidup berkaitan erat dengan perkembangan
zaman dan teknologi. Semakin bertambahnya zaman semakin canggih teknologi, maka
semakin berkembang pula penerapan gaya hidup oleh manusia dalam kehidupan
sehari-hari.
Pengertian
Hedonism semula berasal dari Bahasa Yunani “hedone” yang berarti “kepuasan”.
Dalam Oxford advanced leaner’s dictionary, “Hedonism” diartikan sebagai “the
belief that pleasure should be main in the life Hedonisme adalah sebuah
kepercayaan bahwa kesenangan harus merupakan tujuan utama dalam hidup.
Sedangkan dalam bahasa Arab “hedonisme” disebut dalam istilah “Madzhab Al
Mut’ah” atau “Madzhab Al Ladzzdzah “. Dalam kamus Al-Munawwir disebutkan
sebagai berikut: Hedonisme adalah sebuah aliran yang mengatakan bahwa
sesungguhnya kelezatan dan kebahagiaan adalah tujuan utama dalam hidup.
Hedonisme adalah pandangan hidup yang
menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak
mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan.
Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan
merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia. Aristipus (432-366SM), salah satu
pengikut Socrates, mengajarkan bahwa kesenangan merupakan satunya-satunya yang
ingin dicari manusia. Kesenangan dapat diperoleh langsung oleh panca indra.
Menurut levan’s & linda gaya hidup hedonis
adalah pola perilaku yang dapat diketahui dari aktifitas, minat maupun pendapat
yang selalu menekankan pola kesenangan hidup. Lebih lanjut menurut susianto
menjelaskan bahwa gaya hidup hedonis adalah pola hidup yang selalu mengarahkan
aktifitasnya untuk mencari kesenangan hidup dan aktivitas tersebut berupa
menghabiskan waktu di luar rumah, lebih banyak bermain, senang pada keramaian
kota, senang membeli barang yang kurang diperlukan diperlukan dan selalu ingin
menjadi pusat perhatian.
Jika seseorang
yang materialis hanya mengejar materi untuk mengejar kepuasan nafsu serta menimbun pundi-
pundi harta saja, maka kita sebagai umat Muslim mengejar materi untuk menafkahi
keluarga, untuk beribadah kepada Allah. Jangan sampai kita me-Tuhan-kan hawa
nafsu kita sendiri. Allah mengingatkan kita dalam al-Qur’an, surat Al-Jasiyah
ayat 23;
|M÷uätsùr& Ç`tB xsªB$# ¼çmyg»s9Î) çm1uqyd ã&©#|Êr&ur ª!$# 4n?tã 5Où=Ïæ tLsêyzur 4n?tã ¾ÏmÏèøÿx ¾ÏmÎ7ù=s%ur @yèy_ur 4n?tã ¾ÍnÎ|Çt/ Zouq»t±Ïî `yJsù ÏmÏöku .`ÏB Ï÷èt/ «!$# 4 xsùr& tbrã©.xs? ÇËÌÈ
Artinya:
Pernakah kamu melihat orang yang
Menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan
Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuannya, dan Allah telah mengunci
pendengaran dan hatinya tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang dapat
memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat) mengapa kamu tidak
mengambil pelajaran?.
Pada
surah At-Takasur ayat 1-3 juga dijelaskan tentang perilaku hedonisme,
ãNä39ygø9r& ãèO%s3G9$# ÇÊÈ 4Ó®Lym ãLänöã tÎ/$s)yJø9$# ÇËÈ xx. ôqy tbqßJn=÷ès? ÇÌÈ
Artinya:
Bermegah-megahan
telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk kedalam kubur, sekali-kali tidak!
Kelak kamu akan mengetahui.
B. Faktor-Faktor
penyebab Gaya Hidup Hedonis
Menurut pendapat Armstrong gaya hidup
seseorang dapat dilihat dari perilaku yang dilakukan oleh individu seperti
kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan atau mempergunakan barang-barang dan jasa,
termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada penentuan kegiatan-kegiatan
tersebut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup hedonis berasal dari
dalam atau faktor internal dan dari luar atau faktor eksternal. Faktor internal
meliputi sikap, pengalaman dan pengamatan, kepribadian, konsep diri, motif, dan
persepsi, sedangkan faktor eksternal meliputi kelompok referensi, keluarga,
kelas sosial, dan kebudayaan.
Dalam kitab
Anas Ismail Abu dawud Dalilu As-Sailin Ensiklopedi Dakwah menjelaskan bahwa
dunia adalah tempat yang dapat memenuhi segala sesuatu yang dibutuhkan oleh
jiwa yang berupa kenikmatan dan kesenangan. Kehidupan dunia tidak lain adalah
jembatan menuju akhirat dan bukan kampung abadi dan tempat tinggal selamanya.
Kehidupan dunia seperti ladang yang menakjubkan orang-orang yang melihatnya
karena hijaunya dan banyaknya bunga-bunga di dalamnya. Kemudian semuanya
menjadi binasa seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa.
a.
Firman Allah:
1.
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa
yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis
emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah
kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik
(surga).” (Ali Imran: 14)
2.
“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan
kepada kamu: “berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa
berat dan ingin tinggal ditempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia
sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal keni’matan hiidup di dunia ini
(dibandingkan dengan kehidupan ) diakhirat hanyalah sedikit.” (At-Taubah:38)
3.
“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia itu, adalah seperti air
(hujan) yang kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena
air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang diamakan manusia dan binatang
ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula)
perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya,
tiba-tiba datanglah kepadanya azab kami di waktu malam atau siang, lalu kami
jadikan (tanam tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit,
seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah kami menjelaskan
tanda-tanda kekuasaan (kami) kepada orang-orang yang berfikir.” (Yunus:24)
4.
“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia
adalah sebagai air hujan yang kami turunkan dari langit, maka menjadi subur
karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi
kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Adalah Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu.” (Al-Kahfi: 45)
5.
“Dan carilah pada apa yang dianuhgerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari
(kenik’matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah
telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka)
bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(Al-Qashash: 77)
6.
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan
main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah sebenarnya kehidupan, kalau mereka
mengetahui.” (Al-Ankabuut:64)
7.
“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka
sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu tentang Allah.” (Faathir:
5)
b.
Sabda Rasulullah:
عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ قَالَ جَلَسَ رَسُوْلُ الله صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ وَجَلَسْنَا حَوْلَهُ فَقَلَ إِنَّ
مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ بَعْدِي مَا يُفْتَهُ عَلَيْكُمْ مِنْ زَهْرَةِ
الدُنْيَا وَزِيَنَتِهَا (متفق عليه)
“Dari Abu Said Al-khudri Radhiyallahu Anhu berkata,
‘Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam duduk di atas mimbar dan kami duduk di
sekelilingnya, lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya di antara hal yang saya
takuti pada kalian sesudahku adalah bila kemewahan dunia dan keindahannya telah
dibuka.” (Muttafaq Alaih)
c.
Penuturan para salaf:
1.
Dikatakan kepada
Ali bin Abi Thalib karamahullahu Wajhah, “ Gambarkan kepada kami tentang
dunia.” Beliau berkata, “saya tidak bisa meggambarkannya kecuali yang awalnya
kesengsaraan, akhirnya kehancuran, di tengahnya perhitungan, tidak
mendapatkannya tersiksa, siapa yang mendapatkannya akan terfitnah dan siapa
yang tamak mencarinya akan bersedih.”
2.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu Anhu berkata, “Tidak
seorang pun kecuali menjadi tamu bagi dunia dan hartanya seperti orang yang
telanjang; tamu akan pergi dan orang telanjang itu akn diusir.”
3.
Imam Asy-Syafi’I Rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang
terlalu mengumbar hawa nafsu karena cinta kehidupan, niscaya dia akan menyembah
keluarganya dan siapa yang ridha dan puas dengan bagiannya, niscaya akan hilang
darinya perbudakan.”
4.
Hasan Al-Basri berkata, “Barangsiapa yang menyaingimu
dalam agamamu maka saingilah dia dan barangsiapa yang menyaingimu dalam
duniamu, maka lemparkan saja di harapannya.”
d.
Kisah-Kisah:
1.
Dari Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, ‘saya
pernah memakai baju besi, lalu saya melihatnya dan saya takjub dengannya. Lalu
Abu Bakar Radhiyallahu Anhu berkata, “apa yang kamu lihat?
Sesungguhnya Allah tidak akan melihatmu. “Saya jawab, “mengapa itu?” Beliau
menjawab, “tidak tahukah kamu, bahwa jika seseorang merasa takjub kepada
dirinya sendiri karena perhiasan dunia, Tuhan akan murka kepadanya hingga dia
melepas perhiasan
2.
tersebut.” Aisyah berkata, “lalu saya melepasnya dan
bersedekah dengannya.”
3.
Dikatakan bahwa seorang Arab singgah di suatu kaum,
lalu mereka menyuguhkan makanan kepadanya dan dia memakannya. Kemudian dia
berdiri menuju suatu perkemahan mereka lalu tidur disana. Lalu mereka melepas
tenda perkemahan, sehingga terkena sinar matahari seraya berkata, Ketahuilah
bahwa dunia adalah seperti perlindungan sementara pada suatu hari pasti
perlindunganmu itu akan hilang. Dia juga berkata, seperti mimpi di waktu
tidur atau seperti naungan yang hilang sesungguhnya orang yang berakal tidak
tertipu dengan sepertinya. Dia juga berkata, wahai penikmat kesenangan
dunia yang tidak abadi sesungguhnya terpedaya oleh naungan yang hilang adalah
bodoh.[[1]]
Ada yang bertanya, “Bagaimana caranya mengeluarkan
perasaan cinta kepada dunia dari hati?” jawabnya adalah: lihatlah tindakan hati
yang berubah-ubah terhadap pemiliknya dan anak-anaknya. Bagaimana terkadang
perasaan cinta kepada dunia itu menghalangi mereka, mengabaikan mereka, dan
menempatkan mereka di belakangnya; kemudian perasaan cinta itu menaikkan mereka
dari satu derajat ke derajat yang lain hingga membuat mereka berada di posisi
yang paling tinggi dari seluruh makhluk, menempatkan mereka di posisi yang
terhormat di antara budak-budak mereka, menampakkan harta simpanan dan
keajaiban-keajaibannya. Ketika mereka berada dalam kegembiraan karena posisi
yang terhormat, kehidupan mereka yang baik, dan tunduknya dunia kepada mereka,
tiba-tiba perasaan cinta kepada dunia itu mengambil mereka, membatasi mereka,
memperdaya mereka, melemparkan mereka dari ketinggian, memotong-motong,
mengoyak-ngoyak, dan menghancurkan mereka. Sedangkan dunia itu sendiri berdiri
di hadapan mereka sambil tertawa dengan iblis yang berada di sampingnya yang
juga ikut tertawa.
Inilah yang dilakukan oleh dunia pada kebanyakan para penguasa,
raja, dan orang-orang kaya, sejak zaman Nabi Adam a.s sampai hari kiamat.
Dengan cara seperti itu, dunia mengangkat lalu menurunkan, memajukkan lalu
memundurkan, mengkayakan lalu memiskiskan, mendekatkan lalu menyembelih
(orang-orang yang mencintainya). Jarang sekali ada orang yang selamat dari
dunia dapat mengalahkannya. Hanya sebagian kecil orang yang dapat melewati
cobaannya dan selamat dari keburukannya. Yang selamat dari keburukannya
hanyalah orang-orang yang mengenalinya dan sangat berhati-hati dengan rayuan
dan tipuannya.
Wahai orang yang bertanya, jika kamu
melihat berbagai air dunia dengan kedua mata hatimu, maka kamu mampu
mengeluarkannya dari hatimu. Sedangkan jika kamu melihatnya mata kepalamu, maka
kamu akan lebih disibukkan oleh perhiasannya daripada aibnya, dan kamu tidak
akan mampu mengeluarkannya meskipun hatimu menjauhkan diri darinya. Ia akan
membunuhmu sebagaimana kamu membunuh orang lain. Perangilah jiwamu sampai
menjadi tenang. Jika jiwa sudah tenang, ia dapat mengetahui aib dunia dan akan
menjauhinya. Ketenangan jiwa ditandai dengan menerima hati dan sirr,
mentaati segala yang diperintahkan keduanya, menerima pemberian keduanya dengan
sukarela, dan bersabar menghadapi rintangan keduanya.[[2]]
C.
Analisis Ayat-Ayat Pendidikan Kebahasaan
1.
Pengertian pendidikan
Pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, dan akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.[[3]]
2.
Pengertian Analisis
Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia pengertian analisis secara Bahasa adalah penyelidikan terhadap
suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dan sebagainya) untuk mengetahui keadaan
yang sebenarnya (sebab-musabab, duduk perkaranya dan lain sebagainya).[[4]]
Menurut John M. Echols pada kamus
pada kamus Inggris analisis adalah analisa, pemisahan, pemeriksaan yang teliti.[[5]]
Dalam Kamus Bahasa Indonesia
Kontenporer karangan Peter Salim dan Yeni Salim menjabarkan pengertian analisis
sebagai berikut:
a.
Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa
(perbuatan, karangan dan sebagainya) untuk mendapatkan fakta yang tepat (asal
usul, sebab, penyebab sebenarnya, dan sebagainya)..
b.
Analisis adalah penguraian pokok persoalan atas bagian-bagian, penelaan bagian-bagian tersebut
dan hubungan antar bagian untuk mendapatkan pengertian yang tepat dengan
pemahaman secara keseluruhan.
c.
Analisis adalah penjabaran (pembentangan) suatu hal,
dan sebagainya setelah ditelaah secara seksama.
d.
Analisis adalah proses pemecahan masalah (melalui akal)
ke dalam bagian-bagiannya berdasarkan metode yang konsisten untuk mencapai
pengertian tentang prinsip-prinsip dasarnya.
Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa
analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk mengetahui keadaan
yang sebenarnya.
3.
Analisis ayat-ayat pendidikan dan kebahasaan
Surah Al-Jasiyah ayat 23
|M÷uätsùr& Ç`tB xsªB$# ¼çmyg»s9Î) çm1uqyd ã&©#|Êr&ur ª!$# 4n?tã 5Où=Ïæ tLsêyzur 4n?tã ¾ÏmÏèøÿx ¾ÏmÎ7ù=s%ur @yèy_ur 4n?tã ¾ÍnÎ|Çt/ Zouq»t±Ïî `yJsù ÏmÏöku .`ÏB Ï÷èt/ «!$# 4 xsùr& tbrã©.xs? ÇËÌÈ
Artinya:
Maka
pernakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan
Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuannya, dan Allah telah mengunci
pendemgaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? maka
siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)?
Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
a. Asbabun
Nuzul ayat 23
Sa’ad
Jubair meriwayatkan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan kaum Quraisy yang mempunyai
kebiasaan menyembah batu selama beberapa waktu. Jika mendapatkan sesembahan
yang lebih baik, mereka akan meninggalkan sesembahan yang lama kemudian
menyembah kepada sesembahan yang baru itu. Sementara itu, orang yang
pendengaran dan hatinya telah terkunci adalah abu jahal. (HR. Ibnu Jarir dan
Ibnu Munzir)
b. Tafsir
ibnu Abbas
Maka
pernakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan
Allah telah membiarkannya sesat berdasarkan Ilmu(-nya), dan dia telah mengunci
pendengaran dan hatinya serta meletakkan penutup pada penglihatannya? Maka
siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah? Maka tidakkah kalian
ingat?
A fa ra-aita (maka pernakah kamu melihat) hai Muhammad!
Manittakhadza ilahahu hawahu (orang yang menjadikan hawa nafsunya
sebagai tuhannya), yakni orang yang menyembah tuhan-tuhan sesuai keinginan hawa
nafsunya. Setiap kali hawa nafsunya menyenangi sesuatu, maka dia pun menyembahnya.
Dia adalah an-Nadlar. Ada yang berpendapat, dia adalah Abu jahl. Dan ada pula
yang berpendapat, dia adalah al-harits bin Qais.
Wa adlallahullahu (dan Allah telah membiarkannya
sesat) dari iman.
‘Ala ‘ilmin (berdasarkan ilmu[-Nya], yakni sebagaimana yang telah dia
ketahui bahwa dia termasuk golongan yang sesat.
Wa khatama ‘ ala sam’ihi (dan dia telah mengunci pendengaran)
agar ia tidak bisa mendengar kebenaran.
Wa qalbiihi (dan hatinya) agar ia tidak bisa mendengar kebenaran.
Wa ja’ala ‘ala basharihi ghisyawah (serta meletakkan pentutup pada
penglihatannya) agar ia tidak dapat melihat kebenaran.
Fa may yahdihi (maka siapakah yang akan memberinya petunjuk), yakni maka
siapakah yang akan membimbingnya kepada Allah Ta’ala.
Mim ba’dillah (sesudah Allah ), yakni sesudaah Allah Ta’ala
menyesatkannya.
A fa la tadzakkarun (maka tidakkah kalian ingat), yakni
tidakkah kalian mengambil pelajaran dari Al-Quran bahwasanya Allah itu Maha Esa
dan tak da sekutu baginya.
Dalam Surah At-Takasut ayat 1 dan 2
juga dijelaskan tentang perilaku hedonisme
ãNä39ygø9r& ãèO%s3G9$# ÇÊÈ 4Ó®Lym ãLänöã tÎ/$s)yJø9$# ÇËÈ
Artinya: bermegah-megahan telah
melalaikan kamu, sampai kamu masuk kedalam kubur. Asbabun Nuzul ayat 1-2 Ibnu
Buraidah meriwayatkan bahwa kedua ayat ini diturunkan berkenaan dengan dua
kabilah Anshar, Bani Haritsah dan Bani Harits. Kedua Kabilah ini saling membanggakan
diri atas harta dan anak-anak mereka. Mereka saling menyombongkan diri dengan
kekayaan dan pangkat orang-orang yang menduduki jabatan paling tinggi. (HR.
Ibnu Hatim).
Terjemahan kosa kata
berdasarkan kamus al-munawwir
|
NO
|
KOSAKATA
|
TERJEMAHAN dan PENJELASAN
|
|
1.
|
أفَرَيْتَ
|
Huruf istifham (أ) dalam ayat ini adalah berfungsi sebagai
penggambaran/konsepsi (Tashawwur).
“Allah swt, seakan-akan
menyruh kita untuk merenung serta melihat tentang orang-orang yang menjadikan
hawa nafsu sebagai tuhannya (orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya)
Sebagaimana terjemahan
dari kata
a رَأَى-يَرَى
Melihat, memandang,
mempertimbangkan, memikirkan, menganggap, mempercayai (terjemahana kamus)
Sedangkan huruf ف adalah Digunakan untuk menggabungkan dua
kata atau lebih secara berurutan dengan tanpa adanya jeda (لِلتَّرْتِيْبِ مَعَ التَّعْقِيْبِ)
|
|
4.
|
مَنْ
|
Berfungsi sebagai istifham atau kata tanya
|
|
5.
|
اتَّخَذَ
|
Berasal dari kata اتَّخَذَ-يَتَّخِذُ yang memiliki makna mengambil, menggunakan,
pengunaan, mengasumsikan, mengadopsi
|
|
6.
|
الهه
|
Dari kata ألَّهَ-يؤَلِّهُ yang berarti mendewakan, mengidolakan,
mempertuhankan اِله merupakan bentuk
masdarnya.
Sedangkan ه adalah kata ganti kepunyaan dari dhomir هو.
|
|
7.
|
هوى
|
Cinta, nafsu birahi,
kecenderungan, kegemaran, khayalan, keinginan, yang datang tiba-tiba
|
|
8.
|
اَضَلٌّ
|
Dari kata اَضَلَّ-يُضِلُّ menyesatkan
|
|
9.
|
الله
|
اله المعبود tuhan tempat menyembah
|
|
11.
|
عِلْم
|
Ilmu pengetahuan,
pelajaran, kesadaran.
|
|
13.
|
خَتَمَ
|
Berasal dari kata خَتَمَ-يَخْتِمُ-خَتْمًا-خِتَامًا yang berarti mencap, menyetempel,
menyegel, menutup, menamatkan, menyempurnakan, menyelesaikan.
|
|
14.
|
عَلَى
|
Merupakan salah satu huruf jar, yang
bermakna diatas, pada,di, dengan..
|
|
15.
|
سَمْعٍ
|
Bentuk masdar dari kata سَمِعَ-يَسْمَعُ
yang berarti mendengar, menerima, menjawab, mengabulkan, memenuhi.
|
|
|
قَلْبِ
|
Hati, qalbu, kalbu, intisari, pusat,
pertengahan.
|
|
|
جَعَلَ
|
Bentuk lampau, dari kata جَعَلَ-يَجْعَلُ
yang berarti membuat, menjadikan.
|
|
|
بَصَرِ
|
Bentuk masdar dari kata بَصُرَ-يَبْصُرُ
yang berarti melihat.
|
|
|
غِشَاوَة
|
Kabur, samar, awan, embun, selaput,
selubung, tutup.
|
|
|
يَهْدِيه
|
Memandu, menunjukkan jalan,menuntun,
membimbing, menunjuki.
|
|
|
مِنْ بَعدِ الله
|
Sesudah Allah.
|
|
|
افَلا تَذَكَّرُوْنَ
|
Maka tidakkah kalian tidak ingat.
|
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
gaya
hidup hedonis adalah suatu pola hidup yang aktivitasnya untuk mencari
kesenangan hidup, seperti lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah, lebih
banyak bermain, senang pada keramaian kota, senang membeli barang mahal yang
disenanginya, serta selalu ingin menjadi pusat perhatian. Gaya hidup antara
individu satu dengan yang lainnya akan berbeda. Gaya hidup menunjukkan
bagaimana seseorang mengatur kehidupan pribadinya, kehidupan masyarakat,
perilku di depan umum, dan upaya membedakan statusnya dari orang lain melalui
lambang-lambang sosial.
dunia adalah tempat
yang dapat memenuhi segala sesuatu yang dibutuhkan oleh jiwa yang berupa
kenikmatan dan kesenangan. Kehidupan dunia tidak lain adalah jembatan menuju
akhirat dan bukan kampung abadi dan tempat tinggal selamanya. Orang hedonis
cenderung
jauh dari unsur-unsur ibadah, mereka cenderung lalai dalam mengingat
Allah, mereka menjauh dari Allah, malah menyingkirkan Allah dari kehidupannya
dan terkadang bahkan tidak percaya dengan Allah.
DAFTAR
PUSTAKA
Anas
Ismail Abu, Dawud. Dalilu As-sailin, (Malang: Al-Mamlakah Al-Arabiyah
As-su’udiyah, 2004)
Syekh
Abdul Qadir, Jaelani. Buku Petunjuk Bagi orang-orang yang Menginginkan
Pertolongan Allah SWT, الفتح الرباني. (Bekasi:
PT. Sahara intisains, 2011
Ebta,
Setiawan. Kamus Besar Bahasa Indonesia offline Versi I.I, (2010)
Jhon
M.Echol and Hassan Sadily. Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 1992).
Al-Quran
Tafsir Perkata. Al-hidayah