Sabtu, 12 Januari 2019

JURNAL HEDONISME DALAM AL-QUR'AN


Hedonisme dalam al-Qur’an
(Analisis Ayat-Ayat Pendidikan dan Kebahasaan)
Andi S. Rahman
NIM: 161032034
andi24rahman@gmail.com

ASBTRAK
Hedonisme adalah sebuah aliran yang mengatakan bahwa sesungguhnya kelezatan dan kebahagiaan adalah tujuan utama dalam hidup. Sebagai seorang muslim, adalah keharusan bagi kita untuk selalu menjaga dan memperhatikan kehidupannya supaya tidak salah arah dan tujuan. diluar kita, ada segolongan orang yang orientasinya hanyalah duniawi, tiada lain kecuali harta, materi, dan kesenangan dunia. Tentunya hal semacam ini tidak pantas untuk kita ikuti bahkan kita banggakan.
Kondisi dunia yang semakin mengglobal. Perembesan budaya antar bangsa di dunia tidak terelakkan lagi. Termasuk di dalamnya ideologi dan gaya hidup manusia yang sudah tidak dapat dibedakan lagi antara suatu bangsa dengan bangsa lain dan pemeluk suatu agama dengan pemeluk agama lain. Standar kesuksesan seseorang di zaman ini, kebanyakan diukur dengan seberapa banyak seseorang menguasai harta kekayaan dengan tanpa melihat asal muasal harta tersebut didapat. Standard halal atau haram seolah bukan merupakan masalah yang prinsip. Sebuah ungkapan yang sering terdengar adalah, “mencari yang haram saja susah apalagi yang halal”, walaupun disampaikan dengan nada kelakar, akan tetapi paling tidak hal tersebut merupakan cermin perilaku hedonistik dan materialistik sebagai gaya hidup yang sedang ngetrend zaman ini. Padahal paham hedonisme sendiri sebenarnya merupakan paham yang sudah usang, yakni berasal dari Yunani Kuno yang salah satu tokohnya adalah Epikurus yang hidup antara tahun 341 sampai dengan 271 M.
Kata Kunci: Hedonisme



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kepribadian individu berpengaruh terhadap kualitas hidup seseorang. Kepribadian tersebut dipengaruhi oleh faktor lingkungan semisal lingkungan tempat tinggal, lingkungan kampus, maupun lingkungan di dalam masyarakat. Kepribadian seseorang juga dapat disebabkan oleh perkembangan teknologi yang semakin pesat sehingga menimbulkan dampak globalisasi informasi, mode, serta menjamurnya berbagai macam perangkat media massa dan elektronik, seperti televisi, internet, dan alat-alat komunikasi yang mengakibatkan perubahan serta pola atau gaya hidup masyarakat.
Pengaruh globalisasi berimbas kepada pemenuhan kebutuhan gaya hidup anak zaman sekarang. gaya hidup merupakan cara yang unik dari setiap orang dalam berjuang mencapai tujuan khusus yang telah ditentukan orang itu dalam kehidupan tertentu dimana seorang individu berada. Perilaku gaya hidup hedonisme yang tampak di kalangan mahasiswa saat ini, disamping adanya perubahan dari kehidupan masyarakat modern, diyakini pula adanya perubahan pada proses perkembangan individu. Hal ini ditandai dengan keinginan untuk mandiri dan mencari konsep diri.
Dalam kamus Al-Munawwir disebutkan sebagai berikut: Hedonisme adalah sebuah aliran yang mengatakan bahwa sesungguhnya kelezatan dan kebahagiaan adalah tujuan utama dalam hidup. Kemudian dalam Ensiklopedia Bahasa Indonesia disebutkan bahwa Hedonisme adalah paham yang berpendapat bahwa kepuasan merupakan satu-satunya alasan dalam tindak susila.

Di dalam Al-Qur’an kalimat yang semakna dengan hedonisme adalah At Takatsur yang dalam terjemahan versi Depag RI diterjemahkan sebagai “bermegah-megahan” dengan membubuhkan catatan kaki, “bermegah-megahan dalam soal anak, harta, pengikut, kemuliaan dan seumpamanya.”
Al-Qur’an telah memperingatkan umat manusia agar senantiasa waspada terhadap penyakit ini dengan sangat keras dengan ancaman siksaan yang amat pedih, baik ketika berada di alam barzakh maupun di alam akhirat kelak. Hal ini terlihat jelas bahwa maksud dari firman Allah, “Alhaakumuttakatsur” adalah wa’id atau ancaman terhadap orang-orang yang selama hidupnya hanya sibuk mengurusi urusan-urusan duniawi sampai mereka masuk ke liang lahat sedang mereka tidak sempat bertaubat.


B.     Rumusan Masalah
1.    apa itu hedonisme.
2.      Faktor apakah yang mempengaruhi seseorang berperilaku hedonisme.
3.      Bagaimana analisis ayat-ayat pendidikan dan kebahasan  tentang hedonisme.

C.    Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui pengertian hedonisme.
2.      Mengetahui faktor-faktor seseorang menjadi berperilaku hedonisme.
3.      Mengetahui analisis ayat-ayat pendidikan dan kebahasaan tentang hedonisme.








BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Hedonisme
gaya hidup hedonis adalah suatu pola hidup yang aktivitasnya untuk mencari kesenangan hidup, seperti lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah, lebih banyak bermain, senang pada keramaian kota, senang membeli barang mahal yang disenanginya, serta selalu ingin menjadi pusat perhatian. Gaya hidup antara individu satu dengan yang lainnya akan berbeda. Gaya hidup menunjukkan bagaimana seseorang mengatur kehidupan pribadinya, kehidupan masyarakat, perilku di depan umum, dan upaya membedakan statusnya dari orang lain melalui lambang-lambang sosial.
Gaya hidup berkaitan erat dengan perkembangan zaman dan teknologi. Semakin bertambahnya zaman semakin canggih teknologi, maka semakin berkembang pula penerapan gaya hidup oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Pengertian Hedonism semula berasal dari Bahasa Yunani “hedone” yang berarti “kepuasan”. Dalam Oxford advanced leaner’s dictionary, “Hedonism” diartikan sebagai “the belief that pleasure should be main in the life Hedonisme adalah sebuah kepercayaan bahwa kesenangan harus merupakan tujuan utama dalam hidup. Sedangkan dalam bahasa Arab “hedonisme” disebut dalam istilah “Madzhab Al Mut’ah” atau “Madzhab Al Ladzzdzah “. Dalam kamus Al-Munawwir disebutkan sebagai berikut: Hedonisme adalah sebuah aliran yang mengatakan bahwa sesungguhnya kelezatan dan kebahagiaan adalah tujuan utama dalam hidup.  
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia. Aristipus (432-366SM), salah satu pengikut Socrates, mengajarkan bahwa kesenangan merupakan satunya-satunya yang ingin dicari manusia. Kesenangan dapat diperoleh langsung oleh panca indra.
Menurut levan’s & linda gaya hidup hedonis adalah pola perilaku yang dapat diketahui dari aktifitas, minat maupun pendapat yang selalu menekankan pola kesenangan hidup. Lebih lanjut menurut susianto menjelaskan bahwa gaya hidup hedonis adalah pola hidup yang selalu mengarahkan aktifitasnya untuk mencari kesenangan hidup dan aktivitas tersebut berupa menghabiskan waktu di luar rumah, lebih banyak bermain, senang pada keramaian kota, senang membeli barang yang kurang diperlukan diperlukan dan selalu ingin menjadi pusat perhatian.
Jika seseorang yang materialis hanya mengejar materi untuk mengejar kepuasan nafsu serta menimbun pundi- pundi harta saja, maka kita sebagai umat Muslim mengejar materi untuk menafkahi keluarga, untuk beribadah kepada Allah. Jangan sampai kita me-Tuhan-kan hawa nafsu kita sendiri. Allah mengingatkan kita dalam al-Qur’an, surat Al-Jasiyah ayat 23;
|M÷ƒuätsùr& Ç`tB xsƒªB$# ¼çmyg»s9Î) çm1uqyd ã&©#|Êr&ur ª!$# 4n?tã 5Où=Ïæ tLsêyzur 4n?tã ¾ÏmÏèøÿxœ ¾ÏmÎ7ù=s%ur Ÿ@yèy_ur 4n?tã ¾ÍnÎŽ|Çt/ Zouq»t±Ïî `yJsù ÏmƒÏöku .`ÏB Ï÷èt/ «!$# 4 Ÿxsùr& tbr㍩.xs? ÇËÌÈ  

Artinya:
Pernakah kamu melihat orang yang   
 Menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuannya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang dapat memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat) mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?.
          Pada surah At-Takasur ayat 1-3 juga dijelaskan tentang perilaku hedonisme,
ãNä39ygø9r& ãèO%s3­G9$# ÇÊÈ   4Ó®Lym ãLänöã tÎ/$s)yJø9$# ÇËÈ   žxx. šôqy tbqßJn=÷ès? ÇÌÈ  
Artinya:
          Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk kedalam kubur, sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui.

B.     Faktor-Faktor penyebab Gaya Hidup Hedonis
Menurut pendapat Armstrong gaya hidup seseorang dapat dilihat dari perilaku yang dilakukan oleh individu seperti kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan atau mempergunakan barang-barang dan jasa, termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada penentuan kegiatan-kegiatan tersebut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup hedonis berasal dari dalam atau faktor internal dan dari luar atau faktor eksternal. Faktor internal meliputi sikap, pengalaman dan pengamatan, kepribadian, konsep diri, motif, dan persepsi, sedangkan faktor eksternal meliputi kelompok referensi, keluarga, kelas sosial, dan kebudayaan.
 Dalam kitab Anas Ismail Abu dawud Dalilu As-Sailin Ensiklopedi Dakwah menjelaskan bahwa dunia adalah tempat yang dapat memenuhi segala sesuatu yang dibutuhkan oleh jiwa yang berupa kenikmatan dan kesenangan. Kehidupan dunia tidak lain adalah jembatan menuju akhirat dan bukan kampung abadi dan tempat tinggal selamanya. Kehidupan dunia seperti ladang yang menakjubkan orang-orang yang melihatnya karena hijaunya dan banyaknya bunga-bunga di dalamnya. Kemudian semuanya menjadi binasa seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa.
a.        Firman Allah:
1.      “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali Imran: 14)
2.      “Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: “berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal ditempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal keni’matan hiidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan ) diakhirat hanyalah sedikit.” (At-Taubah:38)
3.      “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia itu, adalah seperti air (hujan) yang kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang diamakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab kami di waktu malam atau siang, lalu kami jadikan (tanam tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (kami) kepada orang-orang yang berfikir.” (Yunus:24)
4.      “Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Kahfi: 45)
5.      “Dan carilah pada apa yang dianuhgerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenik’matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash: 77)
6.      “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Al-Ankabuut:64)
7.      “Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu tentang Allah.” (Faathir: 5)
b.      Sabda Rasulullah:
عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ قَالَ جَلَسَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ وَجَلَسْنَا حَوْلَهُ فَقَلَ إِنَّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ بَعْدِي مَا يُفْتَهُ عَلَيْكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُنْيَا وَزِيَنَتِهَا (متفق عليه)               “Dari Abu Said Al-khudri Radhiyallahu Anhu berkata, ‘Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam duduk di atas mimbar dan kami duduk di sekelilingnya, lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya di antara hal yang saya takuti pada kalian sesudahku adalah bila kemewahan dunia dan keindahannya telah dibuka.” (Muttafaq Alaih)
c.       Penuturan para salaf:
1.       Dikatakan kepada Ali bin Abi Thalib karamahullahu Wajhah, “ Gambarkan kepada kami tentang dunia.” Beliau berkata, “saya tidak bisa meggambarkannya kecuali yang awalnya kesengsaraan, akhirnya kehancuran, di tengahnya perhitungan, tidak mendapatkannya tersiksa, siapa yang mendapatkannya akan terfitnah dan siapa yang tamak mencarinya akan bersedih.”
2.      Ibnu Mas’ud radhiyallahu Anhu berkata, “Tidak seorang pun kecuali menjadi tamu bagi dunia dan hartanya seperti orang yang telanjang; tamu akan pergi dan orang telanjang itu akn diusir.”
3.      Imam Asy-Syafi’I Rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang terlalu mengumbar hawa nafsu karena cinta kehidupan, niscaya dia akan menyembah keluarganya dan siapa yang ridha dan puas dengan bagiannya, niscaya akan hilang darinya perbudakan.”
4.      Hasan Al-Basri berkata, “Barangsiapa yang menyaingimu dalam agamamu maka saingilah dia dan barangsiapa yang menyaingimu dalam duniamu, maka lemparkan saja di harapannya.”
d.      Kisah-Kisah:
1.      Dari Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, ‘saya pernah memakai baju besi, lalu saya melihatnya dan saya takjub dengannya. Lalu Abu Bakar Radhiyallahu Anhu berkata, “apa yang kamu lihat? Sesungguhnya Allah tidak akan melihatmu. “Saya jawab, “mengapa itu?” Beliau menjawab, “tidak tahukah kamu, bahwa jika seseorang merasa takjub kepada dirinya sendiri karena perhiasan dunia, Tuhan akan murka kepadanya hingga dia melepas perhiasan
2.      tersebut.” Aisyah berkata, “lalu saya melepasnya dan bersedekah dengannya.”
3.      Dikatakan bahwa seorang Arab singgah di suatu kaum, lalu mereka menyuguhkan makanan kepadanya dan dia memakannya. Kemudian dia berdiri menuju suatu perkemahan mereka lalu tidur disana. Lalu mereka melepas tenda perkemahan, sehingga terkena sinar matahari seraya berkata, Ketahuilah bahwa dunia adalah seperti perlindungan sementara pada suatu hari pasti perlindunganmu itu akan hilang. Dia juga berkata, seperti mimpi di waktu tidur atau seperti naungan yang hilang sesungguhnya orang yang berakal tidak tertipu dengan sepertinya. Dia juga berkata, wahai penikmat kesenangan dunia yang tidak abadi sesungguhnya terpedaya oleh naungan yang hilang adalah bodoh.[[1]]
Ada yang bertanya, “Bagaimana caranya mengeluarkan perasaan cinta kepada dunia dari hati?” jawabnya adalah: lihatlah tindakan hati yang berubah-ubah terhadap pemiliknya dan anak-anaknya. Bagaimana terkadang perasaan cinta kepada dunia itu menghalangi mereka, mengabaikan mereka, dan menempatkan mereka di belakangnya; kemudian perasaan cinta itu menaikkan mereka dari satu derajat ke derajat yang lain hingga membuat mereka berada di posisi yang paling tinggi dari seluruh makhluk, menempatkan mereka di posisi yang terhormat di antara budak-budak mereka, menampakkan harta simpanan dan keajaiban-keajaibannya. Ketika mereka berada dalam kegembiraan karena posisi yang terhormat, kehidupan mereka yang baik, dan tunduknya dunia kepada mereka, tiba-tiba perasaan cinta kepada dunia itu mengambil mereka, membatasi mereka, memperdaya mereka, melemparkan mereka dari ketinggian, memotong-motong, mengoyak-ngoyak, dan menghancurkan mereka. Sedangkan dunia itu sendiri berdiri di hadapan mereka sambil tertawa dengan iblis yang berada di sampingnya yang juga ikut tertawa.
      Inilah yang dilakukan oleh dunia pada kebanyakan para penguasa, raja, dan orang-orang kaya, sejak zaman Nabi Adam a.s sampai hari kiamat. Dengan cara seperti itu, dunia mengangkat lalu menurunkan, memajukkan lalu memundurkan, mengkayakan lalu memiskiskan, mendekatkan lalu menyembelih (orang-orang yang mencintainya). Jarang sekali ada orang yang selamat dari dunia dapat mengalahkannya. Hanya sebagian kecil orang yang dapat melewati cobaannya dan selamat dari keburukannya. Yang selamat dari keburukannya hanyalah orang-orang yang mengenalinya dan sangat berhati-hati dengan rayuan dan tipuannya.
                 Wahai orang yang bertanya, jika kamu melihat berbagai air dunia dengan kedua mata hatimu, maka kamu mampu mengeluarkannya dari hatimu. Sedangkan jika kamu melihatnya mata kepalamu, maka kamu akan lebih disibukkan oleh perhiasannya daripada aibnya, dan kamu tidak akan mampu mengeluarkannya meskipun hatimu menjauhkan diri darinya. Ia akan membunuhmu sebagaimana kamu membunuh orang lain. Perangilah jiwamu sampai menjadi tenang. Jika jiwa sudah tenang, ia dapat mengetahui aib dunia dan akan menjauhinya. Ketenangan jiwa ditandai dengan menerima hati dan sirr, mentaati segala yang diperintahkan keduanya, menerima pemberian keduanya dengan sukarela, dan bersabar menghadapi rintangan keduanya.[[2]]
C.    Analisis Ayat-Ayat Pendidikan Kebahasaan
1.      Pengertian pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, dan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.[[3]]
2.      Pengertian Analisis
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian analisis secara Bahasa adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dan sebagainya) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab-musabab, duduk perkaranya dan lain sebagainya).[[4]]
           Menurut John M. Echols pada kamus pada kamus Inggris analisis adalah analisa, pemisahan, pemeriksaan yang teliti.[[5]]
           Dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontenporer karangan Peter Salim dan Yeni Salim menjabarkan pengertian analisis sebagai berikut:
a.       Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (perbuatan, karangan dan sebagainya) untuk mendapatkan fakta yang tepat (asal usul, sebab, penyebab sebenarnya, dan sebagainya)..
b.      Analisis adalah penguraian pokok persoalan atas  bagian-bagian, penelaan bagian-bagian tersebut dan hubungan antar bagian untuk mendapatkan pengertian yang tepat dengan pemahaman secara keseluruhan.
c.       Analisis adalah penjabaran (pembentangan) suatu hal, dan sebagainya setelah ditelaah secara seksama.
d.      Analisis adalah proses pemecahan masalah (melalui akal) ke dalam bagian-bagiannya berdasarkan metode yang konsisten untuk mencapai pengertian tentang prinsip-prinsip dasarnya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.
3.      Analisis ayat-ayat pendidikan dan kebahasaan
Surah Al-Jasiyah ayat 23
|M÷ƒuätsùr& Ç`tB xsƒªB$# ¼çmyg»s9Î) çm1uqyd ã&©#|Êr&ur ª!$# 4n?tã 5Où=Ïæ tLsêyzur 4n?tã ¾ÏmÏèøÿxœ ¾ÏmÎ7ù=s%ur Ÿ@yèy_ur 4n?tã ¾ÍnÎŽ|Çt/ Zouq»t±Ïî `yJsù ÏmƒÏöku .`ÏB Ï÷èt/ «!$# 4 Ÿxsùr& tbr㍩.xs? ÇËÌÈ  

Artinya:
                 Maka pernakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuannya, dan Allah telah mengunci pendemgaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
a.       Asbabun Nuzul ayat 23
Sa’ad Jubair meriwayatkan, bahwa ayat ini diturunkan  berkenaan dengan kaum Quraisy yang mempunyai kebiasaan menyembah batu selama beberapa waktu. Jika mendapatkan sesembahan yang lebih baik, mereka akan meninggalkan sesembahan yang lama kemudian menyembah kepada sesembahan yang baru itu. Sementara itu, orang yang pendengaran dan hatinya telah terkunci adalah abu jahal. (HR. Ibnu Jarir dan Ibnu Munzir)
b.      Tafsir ibnu Abbas
Maka pernakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah telah membiarkannya sesat berdasarkan Ilmu(-nya), dan dia telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan penutup pada penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah? Maka tidakkah kalian ingat?
A fa ra-aita (maka pernakah kamu melihat) hai Muhammad!
Manittakhadza ilahahu hawahu (orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya), yakni orang yang menyembah tuhan-tuhan sesuai keinginan hawa nafsunya. Setiap kali hawa nafsunya menyenangi sesuatu, maka dia pun menyembahnya. Dia adalah an-Nadlar. Ada yang berpendapat, dia adalah Abu jahl. Dan ada pula yang berpendapat, dia adalah al-harits bin Qais.
Wa adlallahullahu (dan Allah telah membiarkannya sesat) dari iman.
‘Ala ‘ilmin (berdasarkan ilmu[-Nya], yakni sebagaimana yang telah dia ketahui bahwa dia termasuk golongan yang sesat.
Wa khatama ‘ ala sam’ihi (dan dia telah mengunci pendengaran) agar ia tidak bisa mendengar kebenaran.
Wa qalbiihi (dan hatinya) agar ia tidak bisa mendengar kebenaran.
Wa ja’ala ‘ala basharihi ghisyawah (serta meletakkan pentutup pada penglihatannya) agar ia tidak dapat melihat kebenaran.
Fa may yahdihi (maka siapakah yang akan memberinya petunjuk), yakni maka siapakah yang akan membimbingnya kepada Allah Ta’ala.
Mim ba’dillah (sesudah Allah ), yakni sesudaah Allah Ta’ala menyesatkannya.
A fa la tadzakkarun (maka tidakkah kalian ingat), yakni tidakkah kalian mengambil pelajaran dari Al-Quran bahwasanya Allah itu Maha Esa dan tak da sekutu baginya.
            Dalam Surah At-Takasut ayat 1 dan 2 juga dijelaskan tentang perilaku hedonisme
ãNä39ygø9r& ãèO%s3­G9$# ÇÊÈ   4Ó®Lym ãLänöã tÎ/$s)yJø9$# ÇËÈ  
Artinya: bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk kedalam kubur. Asbabun Nuzul ayat 1-2 Ibnu Buraidah meriwayatkan bahwa kedua ayat ini diturunkan berkenaan dengan dua kabilah Anshar, Bani Haritsah dan Bani Harits. Kedua Kabilah ini saling membanggakan diri atas harta dan anak-anak mereka. Mereka saling menyombongkan diri dengan kekayaan dan pangkat orang-orang yang menduduki jabatan paling tinggi. (HR. Ibnu Hatim).
Terjemahan kosa kata berdasarkan kamus al-munawwir
NO
KOSAKATA
TERJEMAHAN dan PENJELASAN
1.
أفَرَيْتَ
Huruf istifham (أ) dalam ayat ini adalah berfungsi sebagai penggambaran/konsepsi (Tashawwur).
“Allah swt, seakan-akan menyruh kita untuk merenung serta melihat tentang orang-orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya (orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya)
Sebagaimana terjemahan dari kata
a رَأَى-يَرَى
Melihat, memandang, mempertimbangkan, memikirkan, menganggap, mempercayai  (terjemahana kamus)
Sedangkan huruf ف  adalah Digunakan untuk menggabungkan dua kata atau lebih secara berurutan dengan tanpa adanya jeda (لِلتَّرْتِيْبِ مَعَ التَّعْقِيْبِ)

4.
مَنْ
Berfungsi sebagai  istifham atau kata tanya
5.
اتَّخَذَ
Berasal dari kata اتَّخَذَ-يَتَّخِذُ  yang memiliki makna mengambil, menggunakan, pengunaan, mengasumsikan, mengadopsi
6.
الهه
Dari kata ألَّهَ-يؤَلِّهُ yang berarti mendewakan, mengidolakan, mempertuhankan اِله merupakan bentuk masdarnya.
Sedangkan ه adalah kata ganti kepunyaan dari dhomir هو.
7.
هوى
Cinta, nafsu birahi, kecenderungan, kegemaran, khayalan, keinginan, yang datang tiba-tiba
8.
اَضَلٌّ
Dari kata اَضَلَّ-يُضِلُّ menyesatkan
9.
الله
اله المعبود tuhan tempat menyembah
11.
عِلْم
Ilmu pengetahuan, pelajaran, kesadaran.
13.
خَتَمَ
Berasal dari kata خَتَمَ-يَخْتِمُ-خَتْمًا-خِتَامًا yang berarti mencap, menyetempel, menyegel, menutup, menamatkan, menyempurnakan, menyelesaikan.
14.
عَلَى
Merupakan salah satu huruf jar, yang bermakna diatas, pada,di, dengan..
15.
سَمْعٍ
Bentuk masdar dari kata سَمِعَ-يَسْمَعُ yang berarti mendengar, menerima, menjawab, mengabulkan, memenuhi.

قَلْبِ
Hati, qalbu, kalbu, intisari, pusat, pertengahan.

جَعَلَ
Bentuk lampau, dari kata جَعَلَ-يَجْعَلُ yang berarti membuat, menjadikan.

بَصَرِ
Bentuk masdar dari kata بَصُرَ-يَبْصُرُ yang berarti melihat.

غِشَاوَة
Kabur, samar, awan, embun, selaput, selubung, tutup.

يَهْدِيه
Memandu, menunjukkan jalan,menuntun, membimbing, menunjuki.

مِنْ بَعدِ الله
Sesudah Allah.

افَلا تَذَكَّرُوْنَ
Maka tidakkah kalian tidak ingat.



BAB III
 PENUTUP
A.    Kesimpulan
gaya hidup hedonis adalah suatu pola hidup yang aktivitasnya untuk mencari kesenangan hidup, seperti lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah, lebih banyak bermain, senang pada keramaian kota, senang membeli barang mahal yang disenanginya, serta selalu ingin menjadi pusat perhatian. Gaya hidup antara individu satu dengan yang lainnya akan berbeda. Gaya hidup menunjukkan bagaimana seseorang mengatur kehidupan pribadinya, kehidupan masyarakat, perilku di depan umum, dan upaya membedakan statusnya dari orang lain melalui lambang-lambang sosial.
               dunia adalah tempat yang dapat memenuhi segala sesuatu yang dibutuhkan oleh jiwa yang berupa kenikmatan dan kesenangan. Kehidupan dunia tidak lain adalah jembatan menuju akhirat dan bukan kampung abadi dan tempat tinggal selamanya. Orang hedonis cenderung
jauh dari unsur-unsur ibadah, mereka cenderung lalai dalam mengingat Allah, mereka menjauh dari Allah, malah menyingkirkan Allah dari kehidupannya dan terkadang bahkan tidak percaya dengan Allah.
             
DAFTAR PUSTAKA
Anas Ismail Abu, Dawud. Dalilu As-sailin, (Malang: Al-Mamlakah Al-Arabiyah As-su’udiyah, 2004) 
Syekh Abdul Qadir, Jaelani. Buku Petunjuk Bagi orang-orang yang Menginginkan Pertolongan Allah SWT, الفتح الرباني. (Bekasi: PT. Sahara intisains, 2011
Ebta, Setiawan. Kamus Besar Bahasa Indonesia offline Versi I.I, (2010)
Jhon M.Echol and Hassan Sadily. Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992).
Al-Quran Tafsir Perkata. Al-hidayah




[1 ]Anas Ismail Abu Dawud, Dalilu As-Sailin, Malang: Al-Mamlakah Al-Arabiyah As-su’udiyah, 2004), hlm. 125-129
[2]Syekh Abdul Qadir Jaelani, Buku Petunjuk Bagi Orang-Orang Yang Menginginkan Pertolongan Allah SWT, الفتح الربانـي. (Bekasi: PT. Sahara Intisains, 2011), hlm. 161-162
[3]http://bio-sanjaya.blogspot.com /2012/04/pendidikan-pengertian-pendidikan.html18-09-2012,09.23
[4]Ebta setiawan, Kamus Besar Bahasa Indonesia offline Versi 1.1, 2010
[5]John M.Echol and Hassan shadily, kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992), hlm. 28