Kamis, 12 April 2018

makalah pendidikan karakter


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
              Bangsa indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang  memadai sebagai penggerak pembangunan. Dari sisi jumlah, penduduk Indonesia usia produktif telah mencukupi, namun dari mutu perlu ditingkatkan lagi. Sumber daya mengacu pada dua hal. Pertama, memiliki kapabilitas yang cukup mencakup (pengetahuan dan keterampilan). Kedua, memiliki karakter keindonesiaan yang kuat agar ilmu dan keterampilan yang dimiliki bermakna bagi dirinya, masyarakat, bangsa, dan agama.
             Seiring dengan arus globalisasi yang telah masuk dalam seluruh relung kehidupan, pembangunan karakter dirasa mendesak untuk dikaji dan diiplementasikan di sekolah. Mengapa pendidikan karakter mendesak untuk dikaji? Ada gejala-gejala yang menandakan tergerusnya karakter bangsa ini, seperti yang dinyatakan oleh Thomas Lickona tentang tanda-tanda merosotnya karakter suatu bangsa, yakni sebagai beriku: Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja/masyarakat, penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk/tidak baku, semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, Etos kerja yang menurun, semakin rendahnya rasa hormat kepada orangtua dan guru, rendahnya rasa tanggung jawab individu dan kelompok, budaya kebohongan/ketidakjujuran, adanya ras saling curiga dan kebencian antar sesama. Di era global seperi sekarang ini, ancaman hilangnya karakter semakin nyata.
             Oleh karena itu, pendidikan karakter memiliki peran penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan secara nasional yakni mencerdaskan bangsa. Melalui pendidikan karakter maka bangsa akan memiliki generasi yang cerdas dalam bertindak dan bertutur.




B.   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis dapat merumuskan beberapa masalah berikut :
1.      Bagaimana pengertian pendidikan karakter dan pendidikan nasional?
2.      Bagaimana unsur-unsur pendidikan karakter?
3.      Bagaimana pendidikan karakter dalam sistem pendidikan nasional?

C.  Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan makalah adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui pengertian pendidikan karakter dan pendidikan nasional.
2.      Untuk mengetahui unsur-unsur pendidikan karakter.
3.      Untuk mengetahui unsur-unsur dalam sistem pendidikan nasional.









BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Pendidikan Karakter dan Pendidikan Nasional
1.    Pengertian Pendidikan Karakter
              Secara harfiah, karakter artinya kualitas mental atau moral, kekuatan moral, nama atau reputasi. Dalam kamus psikologi, karakter adalah kepribadian yang ditinjau dari titik etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang yang biasanya mempunyai kaitan dengan sifat-sifat yang relatif gelap.[1] Selain itu, pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi peerti, perilaku, personalitas, siifat, tabiat, temperamen, watak. Hal  senada dijelaskan oleh Prof. Suyanto, Ph.D. dalam tulisan bertajuk Urgensi Pendidikan Karakter bahwa karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.[2]
              Sedangkan kata pendidikan yang berasal dari bahasa Inggris education, berasal dari bahasa Latin educare yang artinya melatih atau menjinakkan (seperti dalam konteks manusia melatih hewan-hewan yang liar menjadi jinak sehingga bisa diternakkan); juga berarti menyuburkan (membuat tanah menjadi baik yang siap menjadi persemaian tumbuhan yang berkembang baik karena tanahnya digarap dan diolah).[3]
              Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang mengajarkan hakikat karakter dalam ketiga ranah cipta, rasa, dan karsa, pendidikan karakter juga merupakan pendidikan yang mendukung perkembangan sosial, emosional, dan etis siswa. Departemen Pendidikan Amerika Serikat mendefinisikan pendidikan karakter sebagai proses belajar yang memungkinkan siswa dan orang dewasa untuk memahami, peduli, dan bertindak pada nilai-nilai etika, seperti rasa hormat, keadilan, menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab pada diri sendiri dan orang lain.[4]
              Oleh karena itu, Pendidikan karakter merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan saranaprasarana, pembiayaan, ethos kerja seluruh warga dan lingkungan antarsekolah.
2.    Pendidikan Nasional
                 Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan pancasila Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan zaman.
              Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam undang-undang ini, kita dapat melihat fungsi dan tujuan pendidikan nasional dalam Bab 2 pasal 3 dan dari fungsi dan tujuan diatas, terdapat dua hal penting yang harus diwujudkan oleh lembaga pendidikan. Pertama mengembangkan kemampuan; kedua, membentuk watak. [5]
B.      Unsur-Unsur Pendidikan Karakter
              Ada beberapa unsur dimensi manusia secara psikologis dan sosiologis yang berkaitan dengan terrbentuknya karakter pada manusia. Unsur-unsur ini kadang juga menunjukkan bagaimana karakter seseorang. Unsur-unsur tersebut antara lain lain sikap, emosi, kemauan, kepercayaan, dan kebiasaan, dsb.
1.    Sikap
              Sikap seseorang bisanya adalah merupakan bagian dari karakternya, bahkan dianggap sebagai karakter seseorang tersebut. Tentu saja tidak sepenuhnya benar, tetapi dalam hal tertentu sikap seseorang terhadap apa yang ada di hadapannya, biasanya menunjukkan karakternya. Harrel mendefinisikan “sikap” dengan mengutip American Heritage Dictionary yang mengatakan bahwa sikap adalah cara berpikir atau merasakan dalam kaitannya dengan sejumlah persoalan.
              Oskamp mengemukakan bahwa sikap dipengaruhi oleh proses evaluatif yang dilakukan individu. Oleh karena itu, mempelajari sikap berarti perlu juga mempelajari faktor-faktor yang memengaruhi proses evaluatif.
·           Faktor-faktor genetik fisiologik: faktor genetik fisiologik ini memainkan peranan penting dalam pembentukan sikap melalui kondisi-kondisi fisiologik, misalnya usia atau sakit sehingga harus mengonsumsi obat tertentu. Misalnya, waktu masih muda, individu mempunyai sikap negatif terhadap obat-obatan, tetapi setelah menderita sakit sehingga secara rutin, harus mengonsumsi obat-obatan tertentu.
·           Pengalaman personal: pengalaman personal yang langsung dialami memberikan pengaruh yang lebih kuat daripada pengalaman yang tidak langsung. Menurut Oskamp, dua aspek yang secara khusus memberi sumbangan dalam membentuk sikap. Pertama, peristiwa yang memberikan kesan kuat pada individu (sailent incident) dan kedua, yaitu munculnya objek secara berulang (repeated exposure).
·           Pengaruh orangtua: orangtua sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan anak-anaknya. Sikap orangtua dijadikan role model bagi anak-anaknya. Contoh peristiwa yang dapat digunakan untuk menjelaskan hal ini adalah orang tua pemusik, akan cenderung melahirkan anak-anak yang juga senang musik.
2.         Emosi
              Kata emosi diadopsi dari bahasa latin emovere (e berarti luar dan movere artinya bergerak). Sedangkan dalam bahasa prancis adalah emouvoir yang artinya kegembiraan. Emosi adalah gejala dinamis dalam situasi yang dirasakan manusia, yang disertai dengan efeknya pada kesadaran, perilaku, dan juga merupakan proses fisiologis.
              Oleh karena itu, solusi “kecerdasan emosional” untuk menghadapi relitas kehidupan yang semakin berhadapan dengan banyak masalah adalah kurang realistis. Bukankah bentukan emosi oleh mesin kapitalisme (perusahaan bisnis) yang ingin mencari keuntungan telah didakwa sebagai mesin rekayasa emosi? Dengan demikian, emosi adalah pintu masuk untuk menciptakan pembodohan dan menghilangkan nalar krtitis di kalangan generasi muda kita.
3.         Kepercayaan
              Kepercayaan merupakan komponen kognitif manusia dari faktor sosiopsikologis. Kepercayaan bahwa sesuatu itu “benar” atau “salah” atas dasar bukti, sugesti otoritas, pengalaman, intuisi sangatlah penting untuk membangun watak dan karakter manusia. Jadi, kepercayaan itu memperkukuh eksistensi diri dan memperkukuh hubungan dengan orang lain.
              Kepercayaan memberikan perspektif pada manusia dalam memandang kenyataan dan ia memberikan dasar bagi manusia untuk mengambil pilihan dan menentukan keputusan. Jadi, kepercayaan dibentuk salah satunya oleh pengetahuan. Apa yang kita ketahui membuat kita menentukan pilihan karena kita percaya apa yang kita ambil berdasarkan apa yang kita ketahui. Elemen-elemen penting untuk membangun kepercayaan antara lain adalah keterbukaan (transparansi).
4.         Kebiasaan dan Kemauan
              Kebiasaan adalah komponen konatif dari faktor sosiopsikologis. Kebiasaan adalah aspek perilaku manusia yang menetap, berlangsung secara otomatis, tidak direncanakan. Ia merupakan hasil pelaziman yang berlangsung pada waktu yang lama atau sebagai reaksi khas yang diulangi berkali-kali. Kebiasaan memberikan pola perilaku yang dapat diramalkan.
              Sementara itu, kemauan merupakan kondisi yang sangat mencerminkan karakter seseorang. Ada orang yang kemauannya keras ada, yang kadang mengalahkan kebiasaan, tetapi ada juga orang yang kemauannya lemah. Kemauan erat berkaitan dengan tindakan, bahkan ada  yang mendefinisikan kemauan sebagai tindakan yang merupakan usaha seseorang untuk mencapai tujuan.
5.    Konsepsi Diri (Self-conception)
              Hal penting lainnya yang berkaitan dengan (pembangunan) karakter adalah konsepsi diri. Konsepsi diri penting karena biasanya tidak semua orang cuek pada dirinya. Orang yang sukses biasanya adalah orang yang sadar bagaimana ia membentuk wataknya. Misalnya, Anda sadar bahwa anda harus mengendalikan diri anda saat bertemu orang-orang penting yang menentukan karier anda atau keberhasilan diri anda dalam mencapai tujuan. Proses konsepsi diri merupakan proses totalitas, baik sadar maupun tidak sadar, tentang bagaimana karakter dan diri kita dibentuk.[6]
C.      Pendidikan Karakter Dalam Sistem Pendidikan Nasional
              Karakter yang baik meliputi mengetahui sesuatu yang baik, menginginkan yang baik, dan melakukan yang baik-kebiasaan pikiran, kebiasaan pikiran, kebiasaan hati, dan kebiasaan tindakan. Berdasarkan hal tersebut, sesungguhnya pendidikan karakter bukan sekedar pengajaran atau penataran tentang nilai-nilai karakter. Formula pendidikan karakter meliputi aspek pemahaman (kognitif), tentang kebaikan, aspek motivasi atau keinginan (afektif) untuk berbuat baik, dan action (tindakan) berbuat baik (Psikomotorik).
              Hal tersebut sebagaimana yang terdapat dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yakni Kompetensi Inti. Peseerta didik diarahkan bahkan dituntut agar dalam proses pembelajaran dapat mencapai empat ranah seperti; religius, sosial, kognitif dan psikomotorik. Maka sesuai dengan sistem pendidikan nasional, peserta didik atau siswa dapat memiliki pendidikan karakter dari berbagai aspek. Dengan demikian tujuan pendidikan nasional yakni untuk mencerdaskan bangsa dapat dicapai. Namun perlu diketahui bahwa pendidikan karakter memerlukan semua peranan penting dari berbagai kalangan tidak hanya dari lembaga pendidikan.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     
     

























BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan tentang pendidikan karakter dalam sistem pendidikan nasional yaitu sebagai berikut:
a.       Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang mengajarkan hakikat karakter dalam ketiga ranah cipta, rasa, dan karsa, pendidikan karakter juga merupakan pendidikan yang mendukung perkembangan sosial, emosional, dan etis siswa. Sedangkan pendidikan nasional berfungsi  mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
b.      Unsur-unsur dalam pendidikan karakter secara psikologis dan sosiologis yang berkaitan dengan terbentuknya karakater pada manusia meliputi unsur sikap, emosi, kemauan, kepercayaan, kebiasaan, dsb.
c.       Pendidikan karakter dalam sistem pendidikan nasional adalah untuk menumbuh kembangkan karakter yang cerdas dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional yakni mencerdaskan bangsa melalui pendidikan karakter.















DAFTAR PUSTAKA
Barnawi & M. Arifin, strategi & kebijakan pembelajaran pendidikan karakter, cet. 3; Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016.
Mu’in, Fatchul. Pendidikan Karakter Konstruksi Teoritik & Praktik, cet. 5; Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016.
Zubaedi, Desain Pendidikan Karakater, (Cet. 3; Jakarta: Kencana Perdana Media Group, 2013).


[1] Barnawi & A. Arifin, strategi & kebijakan pembelajaran pendidikan karakter, (cet. 3; Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016), h. 20
[2] Zubaedi, Desain Pendidikan Karakater, (Cet. 3; Jakarta: Kencana Perdana Media Group, 2013), h.11
[3] Fatchul Mu’in, Pendidikan Karakter Konstruksi Teoritik & Praktik, (cet. 5; Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016), h. 288-289
[4] Barnawi & M. Arifin, strategi & kebijakan pembelajaran pendidikan karakter, (cet. 3; Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016), h. 22-23
   [5] Barnawi & M. Arifin, strategi & kebijakan pembelajaran pendidikan karakter, (cet. 3; Jogjakarta)  h. 45
   [6] Fatchul Mu’in, Pendidikan Karakter Konstruksi Teoritik & Praktik, (cet. 5; Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016), h. 168-179

Tidak ada komentar:

Posting Komentar